Kamis, 17 Desember 2015

ILMU SASTRA

ILMU SASTRA



Ilmu Sastra adalah ilmu yang menyelidiki tentang karya sastra secara ilmiah dengan berbagai gejala dan masalah sastra.[1]. Sedangkan,Sastra adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium, dan Bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial.[2] Seorang penelaah sastra harus dapat menerjemahkan pengalaman sastranya dalam bahasa ilmiah, dan harus dapat menjabarkannya dalam uraian yang jelas dan rasional.[3]. Dalam Ilmu sastra terdapat beberapa cabang ilmu sastra yang mempermudah jalannya studi sastra.

Cabang Ilmu Sastra
Cabang dalam Ilmu Sastra terbagi menjadi 3 bagian, yaitu : Teori sastra, Sejarah sastra dan Kritik sastra.[4]

Teori, Kritik dan Sejarah Sastra
Dalam sejarahnya, faktor-faktor sosial memengaruhi evolusi genre-genre sastra, seperti epik ritual, puisi lirik, esai, drama dan yang terakhir adalah novel.[3] Dalam penjabarannya, teori sastra berarti meneliti hal-hal yang berhubungan dengan kesusastraan dalam suatu karya, misalnya gaya bahasa, jenis sastra, hakikat sastra, aliran-aliran dalam sastra, unsur cerita, dll.[3] Teori sastra juga merupakan studi prinsip, kategori, dan kriteria. Kritik sastra dan sejarah sastra adalah studi karya-karya konkret. Menurut salah satu tokoh, ilmu sastra atau studi sastra selaras dengan filologi. Tokoh tersebut adalah Philiph August Boeckh. Dalam bukunya yang berjudul Encyklopadie und Methodologie der Philologischen Wissenschaften (1887), dia menjabarkan bahwa filologi sebagai knowledge of the known. Beberapa bidang yang termasuk adalah studi sastra, bahasa, seni, politik, agama, dan adat istiadat.

Filologi Boeckh didasarkan pada kebutuhan mempelajari karya-karya klasik. Dia memunyai batasan dalam studi sastra, yaitu studi sastra hanya merupakan satu cabang dari filologi, sebagai ilmu kebudayaan secara menyeluruh. Studi sastra mempunyai ciri khas dalam kegiatannya, yaitu membuat interpretasi, meneliti kekhasan suatu karya, dan memberi penilaian. Ada pendapat yang mengatakan bahwa maksud pengarang adalah bahan utama studi sastra, sebenarnya keliru. Makna karya seni tidak sama atau berhenti pada maksud pengarang. Karya sastra berdiri sendiri sebagai suatu sistem nilai.[3]

Seorang sejarawan sastra tidak akan puas menilai suatu karya sastra dari sudut pandang masa kini saja. Ia akan mengevaluasi masa lalu sesuai dengan kebutuhan gaya dan gerakan sastra masa kini. Mungkin lebih baik lagi, jika sejarawan sastra bisa menyoroti karya sastra dengan sudut pandang zaman ketiga (zaman yang tidak sama dengan pengarang dan kritikus) atau melihat keseluruhan sejarah interpretasi dan kritik pada karya sastra untuk memperoleh makna yang lebih menyeluruh.[3] Dalam kenyataannya, tak ada sejarah yang ditulis tanpa prinsip seleksi dalam usaha memerinci ciri-ciri dan membuat penilaian.[3] Sejarawan sastra yang menolak pentingnya kritik sastra sebetulnya melakukan kritik sastra tanpa disadari.[3]

Satra Bandingan, Sastra Umum dan Sastra Nasional
Ada pengertian dari Sastra Umum, Sastra Khusus dan Sastra Bandingan. Sastra umum adalah ilmu sastra yang membicarakan hal ihwal sastra pada umumnya, terlepas dari masalah-masalah kekhususan dari kehidupan sastra akibat adanya corak bangsa dan bahasa.Sastra khusus adalah ilmu sastra yang membicarakan kehidupan sastra suatu bangsa atau suatu suku bangsa tertentu, atau sastra dengan suatu media bahasa tertentu.Sastra perbandingan adalah ilmu sastra yang berusaha menyelidiki adanya persamaan, perbedaan, dan pengaruh dari berbagai hal yang terdapat pada dua atau beberapa sastra tertentu/sastra khusus.[4]

Istilah "Sastra Bandingan" agak merepotkan, dan jenis inilah sebabnya jenis studi yang penting ini kurang sukses secara akademis. Matthew Arnold menggunakan istilah ini pertama kali dalam bahasa inggris, ketika menerjemahkan istilah J.J. Ampere histoire comparative (1848). Ilmuwan Perancis lebih suka memakai istilah yang dipakai lebih awal oleh A.F Villemain yang menyebutnya "litterature compare" dan ilmuwan Jerman mengenalnya dengan "vergleichende Literature geschichte".[5] Perbandingan adalah metode yang umum dipakai dalam semua kritik sastra dan cabang ilmu pengetahuan, dan sama sekali tidak menggambarkan kekhasan prosedur studi sastra.[3] Menurut Sutarto (2012:78—82), telaah sastra bandingan sejatinya tidak bisa dilepaskan dari sejarah sastra, karena sastra berbicara tentang perjalanan perasaan dan pikiran manusia dari zaman ke zaman, dan menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam telaah sastra bandingan, yaitu:

1. Suatu penilaian terhadap karya sastra hendaknya tidak lepas dari jati diri penciptanya.

2. Telaah sastra bandingan harus menguak kenyataan, wawasan tentang manusia, budaya, martabat nilai lokal, dan semangat zaman yang dibangun oleh masyarakat Timur sebagai masyarakat yang memiliki hak untuk menjaga warisan budaya mereka.

3.Dalam disiplin sastra bandingan hendaknya dihindari kegiatan pembacaan jauh agar penelaah memperoleh hasil yang prima.

4. Perbandingan karya-karya sastra yang terpisah dari keseluruhan sastra nasionalnya masing-masing cenderung menjadi dangkal karena telaah semacam itu hanya terbatas kepada pembicaraan tentang pengaruh, sumber, reputasi, dan ketenaran

5. Telaah sastra bandingan hendaknya tidak memasukkan secara mentah-mentah konsep multikulturalisme ala Barat karena pemahaman tentang “the other” seringkali harus bertabrakkan dengan metanarasi yang dipegang teguh sebagai rujukan oleh masyarakat Timur.[6]


Sumber: Wikipedia.org

0 komentar:

Posting Komentar

 
biz.